oleh

Isra Mi’raj dan Kesadaran Bertuhan

-Opini-90 views

Peristiwa Isra Mi’raj adalah sebuah peristiwa suci, diperjalankannya Nabi Muhammad SAW oleh Alloh SWT. Isra Mi’raj mengisyaratkan kepada ummat manusia bahwa dalam kehidupan haruslah dimulai dengan hidup suci, niat suci dan tujuan suci.

Peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa suci diperjalankannya Nabi oleh Allah SWT. Isra’ Mi’raj dimulai dari perjalanan suci dari mesjid ke mesjid kemudian menuju kepada Allah yang suci untuk menjemput ibadah shalat.

Lalu apakah hanya Nabi Muhammad SAW saja yang isra’ mi’raj? Bagaimana dengan kita manusia biasa?.

Menjawab pertanyaan tersebut dapat diuraiakan bahwa di dalam ayat al Qur’an disebutkan kata “abdun” atau hamba, tidak disebutkan nama Nabi Muhammad SAW.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Isra’ Mi’raj bukan hanya Nabi Muhammad saja, bukan hanya untuk Nabi Muhammad SAW saja. Melainkan semua umatnya harus juga melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, tentunya dengan cara yang berbeda.

Kesadaran Bertuhan

Kehidupan manusia di dunia ini disebut asra atau perjalanan, perjalanan manusia perlu mi’raj. Yaitu seperti Shalat dan ibadah lainnya, bila kita tidak Mi’raj di dunia ini maka dalam asra atau perjalanan dunia kita akan tersesat atau salah.

Mi’raj adalah kesadaran ber-Tuhan, karena esensi dasar beriman adalah kesadaran ber-Tuhan.

Penerimaan kemahakuasaan Allah hanya bisa kokoh bila kesadaran ketuhanan lurus dan kukuh.

Kesembronoan dan keberanian mendustai iman, terjadi ketika bertuhan tidak dengan sadar, ia ilusi, imajinasi dan bisa jadi hanya tradisi.

Mi’raj sadar bertuhan artinya dengan ma’rifatullah (naik menuju Allah). Pesannya mengandung makna bahwa al Qur’an mewahyukan Isra dan mi’raj bertujuan agar manusia naik dari makhluk hewani insani (nasut) menjadi insani ilahi (lahut).

Insan ilahi dapat diraba dan dirasakan dari indikasinya bahwa semua sisi kehidupannya berhubungan dengan ilahi, ia tidak liar dari siklus keilahian.
Primordial (aslinya) sebagai pengemban nur ilahi tidak pernah lalai dalam gerak hidupnya.

Namun semua perjalanan Mi’raj manusia tersbut haruslah disertai dengan niatan yang suci, hidup yang suci. Sebab apabila hidup tidak suci jangan diharap Allah Yang Maha Suci akan menerimanya.

Hikmah Isra’ Mi’raj

Lalu apa hikmah dari Isra’ dan mi’raj yang dapat dipetik di era saat ini, perjalanan jauh Nabi sampai melewati sidratul muntaha (akhir alam yang bisa di akses manusia), karena di sana banyak tersedia materi ajar (lesson learn) yang tak tersedia di dunia yang nantinya bermanfaat besar bagi kehidupan.

Isra mi’raj adalah sumber informasi dari yang Maha gaib, diwahyukan oleh al Qur’an yang membawa inspirasi, motivasi dan informasi bagi kemuliaan hidup insan berakal.

Capaian sipritual, mental, dan material yang dilihat dan dirasakan Nabi, sungguh menjadi visi besar manusia lalu, era modern dan masa datang.

Prinsipnya, berita wahyu pasti membuka imajinasi sehat orang yang hidup hati, nurani dan akal sehatnya.

Perjalanan Nabi

Jika Isra’ Mi’raj ditafsirkan sebagai perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW, rasanya tidak mungkin terjadi. Jika Nabi yang berjalan tidak mungkin terjadi, karena daging Nabi akan tercabik-cabik oleh gesekan udara.

Hal ini dapat dibuktikan lewat gelombang elektromagnetik seperti gelombang radio, TV, radar dan lainnya.

Menurut Kosmolog bintang-bintang di alam semesta yang di antaranya lebih besar dari bumi kita, pada taraf evolusinya yang terakhir karena kekuatan gravitasinya ia mengkerut begitu padat sehingga mencapai kerapatan ribuan ton tiap cm3.

Hal ini dikenal dengan fulsar atau bintang neutron. Bila dikala itu diambil sesendok saja, maka bobot materinya mencapai ribuan ton.

Peristiwa keanehan seperti Isra’ Mi’raj sejatinya juga terjadi pada kisah kenabian lain.

Contoh keanehan-keanehan lain seperti Nabi Sulaiman mislanya. Nabi Sulaiman dapat mengendarai angin yang satu kali melancong pagi sama dengan satu bulan perjalanan.

Kisah lainnya adalah Fir’aun jasadnya diselamatkan Allah ketika ditenggelamkan di laut merah, padahal jasad panglima dan laskarnya tidak satupun selamat.

Oleh : Fuad Mahbub Siraj, Ph.D (Dosen Universitas Paramadina) https://scholar.google.com/citations?user=LIxN7XQAAAAJ&hl=id

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam memilih kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed